By : Hazelnine
Mempunyai kampus yang bagus tentu saja
harus didukung dengan lingkungan yang bagus juga. Bagus di sini bukan hanya
dicirikan dengan banyaknya tanaman, bunga-bunga dan lain sebagainya akan tetapi
bagus di sini juga lebih merujuk terhadap kenyamanan dan kebersihan lingkungan
yang bebas dari sampah. Sehingga terciptalah lingkungan yang sehat bagi para
mahasiswa.
“Sampah” merupakan suatu hal yang tidak
pernah jauh dari kehidupan manusia sehari – hari. Sudah menjadi masalah yang
biasa dan sering terjadi di Indonesia. Bahkan di lingkungan kampus STIE
Sutaatmadja (STIESA) yang merupakan sebuah tempat dimana para mahasiswa –
mahasiswi menuntut ilmu juga belum terbebas dari masalah sampah ini. Buktinya,
masih banyak sampah berserakan di setiap sudut kampus. Mulai dari tempat dimana
seluruh mahasiswa bisa saling bertemu dan berkumpul bersama yaitu bangunan
serba guna atau yang mahasiswa – mahasiswi STIESA sering menyebutnya sebagai
“BSG”, di gor, di ruangan organisasi, di setiap meja dan kursi yang ada di
kampus, di ruas-ruas jalan, hingga ruang dimana belajar mengajar dilakukan pun
tidak terbebas dari masalah ini. Apakah seperti itu mahasiswa – mahasiswi yang katanya cerdas
dan terpelajar? Ini Kampus atau TPS? Mahasiswa kok nyampah!!!
Menurut pendapat salah seorang
mahasiswa jurusan Manajemen, “BSG itu tempat yang sering saya jumpai banyak
sampah diantaranya botol minuman plastik, puntung rokok, plastik – plastik
bekas makanan, tisu dan masih banyak lagi. Itu tuh ngerusak lingkungan, jadi ga
enak dipandang jadi males kalau disitu,” Imbuhnya. Banyak dari mahsiswa –
mahasiswi lainnya juga yang dari jurusan Akuntansi mengatakan jika masalah
sampah ini dikarenakan kurangnya fasilitas tempat sampah, banyak tempat sampah
yang sudah ‘full tank’ tapi belum
dibersihkan dan yang paling penting adalah kurangnya kesadaran mahasiswa
STIESA. Masih banyak mahasiswa STIESA yang membuang sampah sembarangan.
Mahasiswa – mahasiswi STIESA
menganggap bahwa di lingkungan kampus mereka ini tidak bersih dan masih banyak
sampah. Boleh saja kalian berpendapat seperti itu, akan tetapi apakah sudah
sepadan dengan perilaku yang kalian lakukan? Sebagai seorang yang terpelajar
sudah sepantasnya kalian berpikir mana yang benar dan mana yang salah.
Kesadaran seluruh warga STIESA sangatlah diperlukan akan tetapi lebih
diutamakan untuk para mahasiswa agar kampus kita tercinta ini terbebas dari
yang namanya ‘sampah’.
Nah, di STIESA ini terdapat banyak
sekali Organisasi dan UKM, salah satu organisasi yang menggarap program kerja
tentang pemberantasan sampah adalah Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) yang
diketuai oleh Inna Halimatul Fatonah. Program Kerja ini sudah berjalan sejak
satu bulan yang lalu sampai sekarang. Teknis dari pelaksanaan proker ini adalah
dengan ‘menciduk’ orang yang menyampah dengan mengambil potretnya bersama
barang bukti sampah, lalu dari BPM akan mencetaknya dan menempel foto mahasiswa
tersebut bersama barang buktinya di mading BPM. Dampaknya sangat – sangat baik
sejak pelaksanaannya pertama kali, sampah di STIESA mulai berkurang karena
mahasiswa – mahasiswi takut apabila tiba – tiba wajah mereka terpampang di
mading BPM. Dengan adanya program kerja dari BPM ini masalah sampah di STIESA
mulai berkurang otomatis meningkatkan kesadaran mahasiswa – mahasiswinya agar
tidak membuang sampah sembarangan atau wajahnya akan terpampang di mading BPM.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar